Dalihan Na Tolu

Sebagai orang yang lahir di perantauan (saya lahir di luar Sumatera Utara), awalnya saya tidak begitu mamahami apa itu Dalihan Na Tolu. Yang saya ketahui bahwa Dalihan Na Tolu itu hanya sebuah prinsip orang batak yang biasa-biasa saja. Namun setelah melihat beberapa tulisan, saya menjadi begitu tertarik untuk mendalami mengenai Dalihan Na Tolu. Ternyata Dalihan Na Tolu merupakan sebuah konsep yang sangat luar biasa dalam keteraturan sosial.
Istilah keteraturan sosial menunjuk pada sumber-sumber dukungan yang mendasar terhadap pola-pola institusi yang dominan dalam masyarakat. Tidak saja harus menunjuk kepada hukum atau keteraturan, dalam arti sempit seperti yang digunakan oleh beberapa orang politisi konservatif dengan arti mempertahankan status quo dan menindak pelanggar hukum. Istilah keteraturan sosial meliputi system nilai masyarakat yang dimiliki, serta ide-ide moralitasnya. Memahami keteraturan sosial berarti mengetahui ‘apa yang mempersatukan masyarakat’.Integrasi sosial dan solidaritas penting untuk dipelajari pada tingkatan masyarakat secara keseluruhan dan juga tingkatan kelompok atau organisasi.
Suatu hal penting dari Durkheim adalah pemahamannya tentang Sui Generis, yang menggambarkan bahwa masyarakat itu lahir dari pemikiran atau gagasan-gagasan  yang bersifat normative atau standartd. Dan itulah kemudian yang membentuk masyarakat. Masyarakat terbentuk/lahir dari pemikiran atau gagasan yang ideal. Solidaritas sosial dan integrasi merupakan permasalahan yang substantive yang diperhatikan Durkheim dalam karya utamanya. Ia mengemukakan bahwa analisanya harus disasarkan pada data empiris dan data ini harus mengenai masyarakat atau stuktur sosial itu sendiri, bukan data individual. Ini penting untuk mendirikan sosiologi sebagai satu ilmu yang mempunyai dasar empiric, yang terpisah dan terlepas dari psikologi.
Pedersen pernah mengungkapkan bahwa berabad-abad lamanya sebelum Injil masuk ke tanah Batak, masyarakat Batak telah terisolasi dari hubungan dunia luar disebabkan letak daerahnya yang bergunung-gunung dan akibat dari pemencilan diri sendiri.Kendatipun adanya keterisolasian yang cukup lama dari masyarakat Batak itu dari segi kebudayaan dan agama yang mengitarinya di Asia Tenggara, namun sebagaimana penilaian William Marsden masyarakat Batak dikatakan telah cukup lama pula mengembangkan sistem peradapan yang tinggi di bidang sosial, hukum dan agama. Masyarakat Batak mengenal sebuah konsep budaya dalam integrasinya, yaitu “Dalihan Na Tolu”, merupakan suatu totalitas dari tiga unsur fungsi sosial.Ini merupakan suatu sistem dan tatanan sosial, kekerabatan orang Batak di dalam komunitasnya. Sebagai sebuah konsep budaya, Dalihan Na Tolu mempunyai Hirearki struktural yang sama dengan sistem budaya pada umumnya secara universal, yang mengikatnya menjadi satu rangkaian sistem, yakni Sistem budaya, Sistem Sosial, Sistem Kepribadian, dan Sitem Organisasi.
Dalihan Na Tou adalah filosofis atau wawasan sosial-kultural yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah (parmudaron) dan hubungan perkawinan yang mempertalikan suatu kelompok. Dalam adat Batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacaran itu harus didasari Kasih Allah.

The Importance of Breakfast

Tahapan Berpacaran Orang Kristen